Pekan Raya Jatim 2026 Is Coming! Ikut Bazar Bikin Cuan atau Malah Bakar Uang?

Pekan Raya Jatim (PRJ) Surabaya 2026 kembali menjadi momentum bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk, menjangkau pelanggan baru, dan meningkatkan penjualan. Dengan target transaksi Rp50 miliar, acara ini membuka peluang menarik bagi bisnis yang ingin memanfaatkan keramaian pameran.

Tapi, ada satu pertanyaan yang perlu dijawab sebelum buru-buru booking booth: ikut bazar itu benar-benar bikin cuan, atau justru bikin modal menguap?

Booth Ramai, Dompet Ikut Ramai?

Bayangkan kamu punya brand makanan atau minuman. Kamu memutuskan ikut bazar karena melihat peluang mendapatkan banyak pelanggan dalam waktu singkat.

Kamu mulai menghitung biaya sewa booth, produksi barang, dekorasi, transportasi, sampai tenaga kerja. Belum lagi diskon dan promo yang harus disiapkan untuk menarik pengunjung.

Saat acara berlangsung, produkmu laris. Transaksi masuk terus, pengunjung mampir, dan omzet terlihat menjanjikan.

Sounds good, right?

Eits, tunggu dulu. Omzet besar belum tentu berarti keuntungan besar. Kalau biaya untuk menghasilkan penjualan ternyata terlalu tinggi, bisnis justru bisa pulang dengan keuntungan tipis—atau bahkan merugi.

Coba Hitung Sebelum Ikut Bazar

Misalnya, kamu berencana mengikuti sebuah bazar dengan rincian berikut:

  • Total biaya tetap bazar: Rp8.000.000

  • Harga jual per produk: Rp30.000

  • Biaya produksi per produk: Rp15.000

Dari setiap produk yang terjual, ada Rp15.000 yang tersisa untuk menutup biaya tetap bazar dan kemudian menghasilkan keuntungan.

Dengan angka tersebut, kamu perlu menjual sekitar 534 produk untuk mencapai titik impas.

Artinya, kalau produk yang terjual hanya 300 buah, omzetmu mencapai Rp9 juta. Namun, setelah dikurangi biaya produksi Rp4,5 juta dan biaya tetap bazar Rp8 juta, kamu justru mengalami kerugian Rp3,5 juta.

Simulasi ini mengasumsikan seluruh produk terjual dengan harga normal dan belum memasukkan biaya tambahan lain.

Nah, sekarang pertanyaannya bukan sekadar apakah produkmu bakal laku, tetapi apakah target penjualannya cukup untuk menutup seluruh biaya yang dikeluarkan.

Jadi, Ikut Bazar Worth It Nggak, Sih?

Jawabannya bergantung pada tujuan dan kesiapan bisnismu.

Ikut bazar bisa menjadi strategi yang menarik jika kamu ingin menguji respons pasar, memperkenalkan produk baru, mendapatkan pelanggan potensial, atau membuka peluang kerja sama.

Namun, sebelum memutuskan ikut, ada tiga hal yang sebaiknya kamu perhitungkan:

1. Hitung break-even point (BEP)

Ketahui berapa banyak produk yang harus terjual agar seluruh biaya bazar tertutup. Dengan begitu, kamu punya target penjualan yang lebih realistis.

2. Siapkan modal kerja

Jangan sampai seluruh modal habis untuk membayar booth dan dekorasi, sementara kamu tidak punya cukup uang untuk memproduksi barang, membayar pemasok, atau menjalankan operasional setelah acara selesai.

3. Tentukan ukuran keberhasilan

Kalau tujuanmu meningkatkan penjualan, hitung keuntungan setelah seluruh biaya diperhitungkan. Kalau tujuanmu memperkenalkan brand, ukur juga jumlah calon pelanggan baru dan potensi pembelian berulang.

Bazar yang berhasil bukan selalu bazar dengan omzet paling besar, melainkan bazar yang memberikan hasil sesuai dengan tujuan dan biaya yang dikeluarkan.

Jangan Cuma Berani Jualan, Harus Berani Hitung Juga!

Momentum seperti Pekan Raya Jatim 2026 bisa menjadi kesempatan bagi UMKM untuk berkembang. Namun, peluang pasar akan lebih bermanfaat jika diimbangi dengan perencanaan bisnis dan keuangan yang matang.

Sebelum mengambil keputusan, pelaku usaha perlu memahami hubungan antara target penjualan, harga produk, biaya operasional, kebutuhan modal, dan proyeksi keuntungan.

Sunny Startup hadir sebagai ekosistem perencanaan bisnis yang mengintegrasikan teknologi, edukasi, dan pendampingan untuk membantu individu serta pelaku usaha menyusun rencana bisnis dan keuangan secara lebih terstruktur.

Melalui perencanaan bisnis dan financial modeling, pelaku usaha dapat memperkirakan kebutuhan modal, menyusun asumsi penjualan, dan memahami proyeksi keuangan sebelum menentukan langkah berikutnya.

Jadi, sebelum ikut bazar berikutnya, jangan cuma tanya, “Berapa banyak produk yang bisa aku jual?”

Coba tanya juga, “Setelah semua biaya dibayar, berapa cuan yang benar-benar aku bawa pulang?”

Karena tujuan bisnis bukan sekadar terlihat ramai, tetapi tumbuh dengan perhitungan yang masuk akal.